Perbedaan Pengertian

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Donny segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Donny berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang
garis jalan, lampu merah menyala. Donny bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Priiiiiiiiiiiit !!!!! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Donny menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu kan Firman, teman mainnya semasa SMA dulu.

Hati Donny agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. “Hai, Firman. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Don.” Jawab Firman, tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah. Hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Oh ya?” Tampaknya Firman agak ragu. “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Donny harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan”.

“Sudahlah, Don. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.” Dengan ketus Donny menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Firman menulis sesuatu di buku tilangnya.

Beberapa saat kemudian Firman mengetuk kaca jendela. Donny memandangi wajah Firman dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Firman kembali ke posnya. Donny mengambil surat tilang yang diselipkan Firman di sela-sela kaca jendela.

Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa?

Buru-buru Donny membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Firman.”Halo Donny. Tahukah kamu, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Donny. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. Kawanmu, Firman.”

Donny terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Firman. Namun, Firman sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

=======
Ternyata tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.

Kiriman Yukiko CemaraHolic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: